Kamis, 07 November 2013

Bahasa-Bahasa yang Sudah Punah di Indonesia



Indonesia adalah negara yang kaya akan keragamannya dalam berbagai hal. Suku, bangsa, agama, etnis, bahasa, sumber daya alam, hanya sebagian dari beberapa hal yang merupakan kekayaan yang dimiliki oleh Negara Indonesia. Namun dalam kesempatan ini saya akan membahas tentang bahasa di Indonesia yang sudah punah dan beberapa yang juga hampir punah.
Di Indonesia, terdapat sedikitnya ada 442 bahasa yang dimiliki Indonesia yang terungkap dalam Kongres Bahasa ke-9 yang digelar 2008 silam. Pada 2012, penelitian berlanjut dengan mengambil sampel di 70 lokasi di wilayah Maluku dan Papua. Hasil dari penelitian itu, jumlah bahasa dan sub bahasa di seluruh Indonesia mencapai 546 bahasa. Jumlah ini sebenarnya dari total 746 bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia. Nambun jumlah itu sudah berkurang drastis karena adanya bahasa-bahasa yang punah dan tidak diteruskan lagi kepada keturunan.
Di daerah NTT dan Maluku contohnya, tercatat oleh Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilaporkan pada tahun 2013 ada tiga bahasa daerahnya yang dilaporkan sudah punah. Dijelaskan punah yang dimaksud adalah jumlah penutur bahasa yang mengalami penuruan atau sudah tidak ada lagi, sehingga tidak ada lagi yang menggunakannya. Beberapa penyebab kepunahan bahasa tersebut diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor-faktor adanya bencana, kejadian perang dan perkawinan campuran. Beberapa faktor lain tidak terlalu berpengaruh namun tetap dapat membuat bahasa menjadi punah.
Perkawinan campuran adalah faktor yang sangat berpengaruh kepada hilangnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Semua disebabkan karena orang tua cenderung tidak mengajarkan anaknya bahasa daerah lagi, melainkan mengajarkan bahasa yang dipelajari di sekolahan. Hal ini membuat lambat laun bahasa-bahasa di daerah akan menjadi punah. Dengan tidak adanya dasar atau teori untuk mempelajari bahasa tersebut, bahasa pun menjadi punah. Faktor lainnya adalah trend. Seperti diketahui bahwa sekarang Bahasa Inggris adalah bahasa internasional, ini membuat semua sekolah memberikan pengajaran Bahasa Inggris. Hampir tidak ada sekolah yang memberikan pengajaran untuk bahasa daerahnya sendiri. Padahal bahasa-bahasa daerah adalah ciri khas dari sebuah daerah itu sendiri. Dengan adanya bahasa daerah yang beragam, Indonesia pun menjadi semakin kaya akan keaneka-ragamannya.
Faktor lainnya adalah adanya ahli kode (switch code). Tentu hal ini akan membuat penggunaan sehari-hari bahasa daerah dalam rumah semakin berkurang. Switch code adalah ketika penutur bahasa mencampurkan bahasa asli yang dimilikinya dengan bahasa asing yang berasal dari luar lingkungannya. Hal ini membuat anak-anak yang mendengar akan mencampurkan bahasa asli dengan bahasa asing dan menghasilkan bahasa baru yang merupakan campuran dari dua atau beberapa bahasa lain. Ditambah lagi dengan adanya pelajaran seperti Bahasa Inggris yang diberikan oleh sekolah membuat bahasa daerah semakin mundur. Jelas ini akan terjadi, karena kelulusan murid diukur oleh nilai dan pengalamannya terhadap pelajaran tersebut.
Adapun beberapa bahasa lain yang hendak punah dan penuturnya berjumlah tidak lebih dari seratus orang. Diantaranya adalah Bahasa Lom (50 penutur), Bahasa Lengilu (10 penutur), Bahasa Nakaela (5 penutur), dan lain sebagainya. Bila bahasa-bahasa tersebut tidak diepeplajari dan tidak lagi di tuturkan kepada anak cucu, maka jelas bahasa-bahasa tersebut akan hilang dari ranah Indonesia ini.
Bahasa daerah adalah salah satu budaya bangsa yang perlu dilestarikan melalui berbagai cara. Tetapi belakangan ini penggunanya semakin hari semakin berkurang. Menurut beberapa ahli, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
·   dominasi bahasa Indonesia
·   dominasi bahasa daerah lain di wilayah mereka
·   penggunaan bahasa daerah yang jarang
·   lebih suka menggunakan bahasa daerah lain yang lebih dominan
·   merasa gengsi atau malu menggunakan bahasa daerahnya sendiri
Dengan banyaknya cara pelestarian budaya berbahasa daerah, salah satunya melalui pendidikan formal, ada beberapa gagasan yang dapat membantu pelestarian yaitu diantaranya melalui kegiatan seperti pembentukan komunitas dengan penggunaan bahasa daerah sebagai sarana pelaksana dan sosialisasi sebagai penjelas dari pembentukan komunitas ini.

 Referensi :
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar